Saya melihat berita tersebut di sebuah situs sebelum membuka videonya ke Youtube. Tentu belum puas nonton di Youtube tanpa melihat komentar-komentar yang ada disana kan yah? Banyak komentar yang ada disana bisa dikategorikan positif dan negatif.
Biasanya yang saya perhatikan kita cenderung kagum saat nama Indonesia disebut di Amerika sana. Wah, itu batik Indonesia, ini punya Indonesia, itu punya Indonesia, Indonesia disebut di serial TV ini dan itu, BALI ITU DI INDONESIA!
Rasanya seperti di komik atau anime dimana kuping kita langsung membesar seperti gajah saat mendengar nama Indonesia disebut. Ikut bangga ketika Indonesia berprestasi.
Tapi kenapa kebanyakan komentar negatif yang saya lihat di video Demian tersebut yah? Mungkin memang manusia cenderung gampang melihat sesuatu yang negatif, sesuatu yang salah. Bahkan Om Deddy Corbuzier pun sampai buat video reaksi atas aksi Demian Aditya di American Got Talent tersebut.
Bisa dibilang saya bukanlah penggemar sulap, dulu mungkin. Mungkin setelah nonton Magic's Biggest Secrets Finally Revealed itu saya jadi tahu semua trik nya (tidak semua sih, tapi menyenangkan bisa tahu bagaimana semua trik itu dilakukan, semacam menonton How It's Made). Entahlah mungkin menyebarkan trik sulap ke umum seperti yang kata om Deddy (kok ini sok akrab ya manggilnya om?) merupakan hal yang...cukup terlarang di antara para pesulap? Saya kurang tahu.
Namun yang saya tahu, sulap itu adalah sebuah seni. Seni trik dan ilusi. Dulu saya benar-benar percaya sulap seperti Harry Potter gitu yah, tapi itu semua hanyalah trik. Trik yang bagus dan juga masih layak dinikmati. Mungkin beberapa orang masih menganggap sulap itu sebagai teka-teki yang harus mereka pecahkan sehingga ketika mengetahui trik nya mereka ingin lebih dahulu memberi tahu kepada orang-orang lain, bukan untuk menikmati seni tapi untuk mendapat sedikit pengakuan kalau mereka juga tahu, mereka juga bisa.
Mungkin beberapa orang menilai sulap itu penipuan ketika mereka mengetahui prosesnya, karena semua terlihat mudah, cepat, dan mustahil. Sehingga ketika tahu apa yang ada dibalik trik tersebut mereka marah karena telah ditipu? "Ah, cuma gitu doang!"
Hei, sulap itu seni kawan.
Untuk dinikmati sama seperti kita mendengarkan orang bermain gitar. Mungkin gitaris lain tahu dia main di kunci apa, lari kemana, dan sebagainya. Ya kalau di musik sangatlah umum untuk share chord atau tabulasi supaya orang lain bisa belajar, tapi pernah dengar gak misalnya di konser Slash pash lagi manggung terus ada yang bilang "Ah, dia maen disini, sini, dan sini, gue juga bisa."
Oke.
Slash bisa, dia juga bisa, temennya dia juga bisa, tapi ya udah kan? Permainan gitarnya itu seni, dan dinikmati. Semua senang.
Atau gitaris Miyavi, Samurai Jepang. Kalau bisa dibilang saya lihat Miyavi main itu kayak ngeliat Miyavi main sulap. Karena saya belum ngeh bagaimana Miyavi bisa main seperti itu. Walaupun saya punya chord nya, belum tentu saya bisa bermain persis seperti Miyavi. Dan ciri khas gitaris-gitaris tersebut itulah seni. Sebuah karya dan ekspresi dari sang artis yang menciptakan keindahan yang menimbulkan kebahagiaan. Yang kita lakukan? Nikmati saja kawan!
People are just as wonderful as sunsets if you let them be. When I look at a sunset, I don't find myself saying, "Soften the orange a bit on the right hand corner." I don't try to control a sunset. I watch with awe as it unfolds -- Carl Rogers.
Manusia itu memang rumit, namun pasti ada alasan dibalik perbuatannya yang dilakukan. Bisa salah, bisa benar, karena manusia itu tidak sempurna. Namun tugas kita adalah belajar untuk menjadi lebih baik lagi, menjadi lebih baik dan mengerti lebih baik, mengampuni lebih baik.
Kembali lagi ke penampilan Demian Aditya, sebagai seorang yang kurang menggemari sulap namun saya mengerti bahwa sulap adalah sebuah seni. Boleh dong saya tidak menggemari sulap? Boleh. Boleh saya mengejek sulap? Tidak. Kenapa? Kalau musisi, aktor atau aktris favoritmu dijelek-jelekin bagaimana perasaanmu? Marah? Kesal? Terluka? Ya, semuanya. Tapi apabila artis favorit saya diejek, saya akan berusaha untuk tidak membalas dan melukai perasaannya lebih lagi. Gak ada salahnya kan untuk bersikap baik, bolehlah kamu tidak suka, tapi jangan sampai melukai perasaan. Kebencian itu tidak rupawan.
Kalau kamu tidak bisa berbicara yang baik, berbicara yang menyenangkan hati orang (bukan menjilat dan mencari perhatian demi kepentingan diri sendiri yah), lebih baik kamu diam. Atau mungkin seperti kata Om Deddy Corbuzier. Kritik yang membangun atau tunjukkan juga bakatmu yang mungkin kamu pikir lebih baik, berkompetisi (walaupun ini bukan kompetisi sepertinya) dengan sehat.