Thursday, December 12, 2013

Santai, itu sudah takdir...

Beberapa orang bilang kalau saya hidup tanpa tujuan, hidup tanpa keinginan.
Sebenarnya ada betulnya dan ada tidak betulnya.

Saya pernah membaca beberapa cerita yang intinya berkata bahwa kadang kita harus menerima segala sesuatu dengan lapang dada.  Kadang memaksakan sesuatu itu malah menjadi keburukan atau kemalangan bagi kita.  Itu inti ceritanya.

Kalau dibilang saya percaya Tuhan (atau takdir), saya percaya.  Karena Tuhan Maha Tahu, Dia pasti tahu yang terbaik buat saya, Dia tahu yang saya butuhkan dan yang saya inginkan.  Mungkin dengan diizinkannya beberapa kejadian buruk dalam hidup saya, saya akan mampu belajar dan menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Dulu sebelum masuk kuliah, saya sama sekali tidak memiliki keinginan untuk masuk ke suatu fakultas.  Kenapa?  Karena saya tidak memiliki bayangan sama sekali.  Satu-satunya yang saya inginkan waktu itu adalah sekolah musik.  Tapi orangtua tidak mengizinkan.
Orangtua tahu yang terbaik buat saya, mereka lebih berpengalaman dan mereka mengetahui saya lebih baik daripada orang lain selain saya mengetahui diri saya sendiri (walaupun kadang saya tidak mengetahui bagaimana saya ini sebenarnya).
Dengan memberikan penjelasan, berbagai alasan yang masuk akal, akhirnya saya memutuskan untuk menuruti nasihat orangtua saya.

Saya pun menjalankan tes di sebuah perguruan tinggi, tes yang diadakan hari Minggu terakhir di bulan Januari.  Sesudah saya menjalani tes, saya merasa tidak yakin semua jawaban yang saya berikan adalah benar, maka saya mulai berpikir untuk mencoba masuk ke tempat lain walaupun hasil tes belum keluar.
Orangtua saya memberikan saran untuk saya menunggu hasil tes keluar terlebih dahulu sebelum membeli formulir pendaftaran masuk ke perguruan tinggi lain, akhirnya saya batal membeli formulir di hari terakhir penjualan dan pengembalian formulir; di hari yang sama dengan pengumuman hasil tes.

Teman-teman saya yang datang langsung ke perguruan tinggi itu mencoba mencarikan apakah saya berhasil masuk atau tidak.  Ternyata mereka tidak dapat menemukan nama saya di papan pengumuman.
"Ah, berarti memang saya tidak seharusnya masuk perguruan ini..", pikir saya ketika saya mendapat pesan singkat dari teman saya.  Saya ingat saya baru saja bangun tidur malam itu.  Saya pun segera memberitahukan bahwa saya tidak berhasil kepada orangtua saya, orangtua saya tidak percaya bahwa saya tidak berhasil masuk dan menyuruh saya untuk mengecek lebih lanjut online.
Sekali mencoba, ternyata memang nama saya tidak terpampang di sana.  Saya pun dari awal sudah menerima keadaan saya bahwa saya tidak masuk.  Ayah saya bersikeras menyuruh saya mencoba lagi beberapa kali dengan memasukkan identitas yang berbeda.  Ternyata setelah beberapa kali akhirnya saya menemukan nomor ujian saya, berikut nama saya.  Ternyata nama saya yang terdaftar hanyalah nama depan saja sehingga teman saya pun tidak dapat menemukannya di papan pengumuman.  Namun setelah dikonfirmasi lebih lanjut, ternyata saya berhasil masuk ke kampus itu.

Dari kejadian di atas saya menyadari bahwa saya ini orangnya tidak mau berjuang, memang saya akan berusaha selalu memberikan yang terbaik yang saya punya pada saat itu, namun saya akan berhenti ketika penilaian sudah dilakukan.  Dan memang itu yang sering saya lakukan.

Kejadian kedua adalah ketika saya harus kehilangan beberapa orang karena kesalahan saya sendiri.  Pada saat itu saya terlalu polos dan mengikuti begitu saja saran orang-orang yang saya percaya.  Hasilnya saya kehilangan orang yang mungkin pada saat itu adalah orang yang paling penting buat saya selain keluarga saya.  Harus saya akui, untuk berpisah dengan orang tersebut sampai saat ini saya terkadang masih merasa menyesal.  Tapi pada akhirnya saya pun ikut bersyukur karena selalu ada yang bisa saya pelajari dalam setiap permasalahan walaupun sampai sekarang masih ada penyesalan dan tetap akan selalu ada.
Teman-teman, semua orang yang kita kenal, bahkan keluarga kita sendiri tidak akan selalu ada dalam kehidupan kita.  Pasti ada saatnya bagi mereka untuk pergi dari kehidupan kita, baik itu karena kematian, ataupun perpisahan.
Itu adalah hal yang saya pelajari dari kejadian tersebut sehingga sekarang membuat saya ragu untuk menetapkan batas yang jelas ketika ada orang-orang di sekitar saya yang membuat saya tidak nyaman.  Setiap orang diizinkan hadir di sekitar saya untuk membuat saya menjadi manusia yang lebih baik.
Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.
Sekarang saya berpikir jauh lebih dewasa dari sebelumnya, setidaknya saya belajar untuk merelakan kepergian orang-orang yang pernah memberikan kesan baik dalam hidup saya.  Dan walaupun dahulu saya membuat kesalahan dengan "membuang" orang-orang yang berarti dalam hidup saya secara kasar, kini saya juga mulai berusaha belajar untuk bisa membangun hubungan sosial yang lebih sehat.
Saya bersalah karena memperlakukan orang tersebut seperti barang dengan membuatnya jauh dari kehidupan saya, merasa saya lebih benar dan dia yang salah.

Sekarang saya masih tetap orang yang pemalas.  Ibaratnya saya ingin mendapatkan nilai yang baik dalam ujian, namun malas untuk belajar.  Tapi walaupun saya malas untuk belajar, saya tidak mau menyontek karena ujian memang ditujukan untuk menguji diri sendiri.
Begitu juga dalam hidup, memang saya memiliki beberapa keinginan, namun kadang keinginan itu hanyalah keinginan.  Saya tidak berusaha untuk mengejar cita-cita saya secara jelas karena memang saya sendiri belum mengerti apa yang sebenarnya saya inginkan.  Kadang saya terlihat menjadi orang yang terlalu santai, walaupun memang benar.  
Saya berpikir bahwa setiap manusia lahir untuk sebuah tujuan, sebuah misi yang tidak dapat dijalankan orang lain kecuali kita sendiri.  Nah, pencarian misi itu tidak saya lakukan dengan baik.  Saya hanya menunggu Tuhan untuk membukakan jalan, memberi tahu saya secara jelas apa yang harus saya lakukan.  Sehingga segala sesuatu yang menimpa saya, akan saya terima karena saya berpikir bahwa itu sudah rencanaNya, sudah takdir kata orang.  Walaupun mungkin seharusnya saya berjuang untuk mendapatkan yang saya inginkan.

Sebenarnya banyak orang bilang kalau saya mau tahu apa yang saya harus lakukan, saya harus mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan menemukan komunitas yang membantu saya untuk bertumbuh.  Tapi ya sekali lagi, saya merasa belum siap dan belum waktunya.

Memang bukan contoh yang baik untuk ditiru ya..

Saturday, November 16, 2013

What?

Everyone has their own ways to enjoy me-time.
Just because I chose to stay in silence, doesn't mean that I have to listen to whatever you say.
You can talk all you want, but I can choose not to listen to you.

You asked me for help, although actually you can do it yourself.
Yes, two is better than one.  It make things easier and faster to be done.
But if you keep using your phone while I have to do all the things, it's not fair.
That's why I keep protesting, because you often judge me for not having works done.
I did more than I should (I think), I sacrifice my time to help.
It's a part of my responsibility and how I show my love to you, my love to them too.
But I feel it's unfair for me if you keep using me so you can get more time using your phone.

Yes, I'm lazy.  That's why you have to choose him.
Yes, I don't want to help you, that's because you keep protecting him and making him stay away from work.
While you think I'm only playing the computer all day, you don't know that I'm doing my assignments.
I'm being scold for not attending classes when the lecturer had cancel it.
I'm trying to understand.

Maybe it's me.
I think justice, equality, fairness means that if I have to do it, he has to do it too.
Why I have to do it when he has not to do it?
Why I have to sacrifice my own time if he enjoy his time?
It's okay if you think I'm selfish. I am a human anyway.
I did ask you, but you can't answer.
So how would I know if I'm wrong?

What's justice? Fairness?  Equality?
At least he has to do something for me too if he can't do my works.
I don't see that.
Show me.
Tell me if I'm wrong.

Friday, November 15, 2013

Minuman Kesukaan

Bentuknya kayak buku kan? 

Yep!  Waktunya promosi!
Bulan November 2013 ini kebanyakan cuaca Bandung tidak bersahabat.  Hampir setiap hari hujan dan banjir.  Hari Sabtu ini pun sama, seharian Ujungberung dilanda hujan dari saya bangun sampai sore hari.  Hujan itu menyenangkan, tidak menyenangkan tapinya kalau hujan pada saat kita harus keluar rumah karena ada urusan yang tidak bisa ditunda.  Nah, biasanya kan kalau hujan saya suka menggalau denger lagu sambil liat keluar jendela pura-pura lagi syuting sedih-sedih galau.  Kali ini saya gak perlu lagi menggalau di saat hujan karena selain mendengarkan lagu saya juga minum minuman hijau cantik ini yang menghangatkan badan.
9 bungkus  beserta petunjuk pemakaian
Yap! Esprecielo!  Awalnya saya tertarik sama produk ini karena saya suka minum teh.  Saya tertarik untuk mencoba teh hijau lain setelah stok teh hijau 2Tang di rumah menipis.  Akhirnya saya beli deh yang Matcha Au Lait.  Bentuknya cantik, mirip buku seperti gambar yang di atas.  Waktu dibuka (setelah bingung bagaimana cara bukanya karena bungkusnya membingungkan ternyata ada Prologue juga!  Setelah membaca cepat, saya buka lagi dan baru kelihatan deh 9 bungkus teh hijau nya beserta petunjuknya yang berbentuk cangkir itu
Setelah baca secara sekilas, jangan tertipu sama bungkusnya yang besar!  Satu bungkus itu cuma terasa enak kalau diseduh pakai gelas yang kecil!  Awalnya saya ketipu dan seduh 1 bungkus itu ke gelas yang lumayan besar, hasilnya jadi gak enak, terlalu banyak air.

Jadi gimana nih rasanya?  Kalo boleh dibilang rasanya enak banget!  Waktu diseduh langsung deh timbul busa-busa lembut di atasnya yang warnanya hijau juga.  Dilihat dari warnanya itu rasanya ya kayak minum green tea yang creamy karena susu.  Sejujurnya saya belum pernah coba pakai air dingin sih, pertama karena saya gak suka minum yang dingin-dingin dan memang minuman ini kerasa paling nikmat diminum waktu suam-suam kuku.  Gak kayak teh yang biasanya saya minum panas-panas.

Kalau kata orang-orang rumah sih minuman ini rasanya kurang manis.  Sebenarnya saya juga memang paling suka minuman yang manis, tapi entah mengapa belakangan ini saya suka rasanya yang lembut dan tidak terlalu manis.  Karena terlalu enak, sekarang biasanya saya minumnya 2 bungkus sekaligus diseduh ke gelas yang besar kayak di bawah ini.  Saking ketagihannya sehari bisa minum sampai 6 bungkus (mau saingan sama konsumsi kopi nya babeh!)

Gelas besar pakai whipped cream

Setelah beberapa lama saya minum ini, ternyata kepikiran juga untuk kasih sedikit pemanis nya dengan whipped cream yang biasa dijual di supermarket.  Jadi setelah diseduh tinggal  dikasih instant whipped cream nya (yang sweetened).  Seperti yang bisa dilihat di gambar di atas, itu memang saya gak bisa aja sih jadi keliatannya kurang menarik, tapi rasanya enak banget!
Ternyata walaupun harganya agak mahal, saya ketemu juga minuman dengan merk yang sama dengan bungkus yang lebih besar.  Walaupun sebenernya isinya gak beda jauh, bungkus yang besar ini isinya ada 14 bungkus dengan petunjuk penyeduhan yang sama juga kayak gambar sebelumnya.  Karena sudah merasakan nikmatnya yang green tea saya jadi penasaran untuk beli yang lainnya karena memang ada banyak variannya.  Jadi ketika saya beli yang bungkus besar Matcha Au Lait itu saya juga coba beli yang Ceylon Red Au Lait yang kemasan kecil, satu kemasan isinya ada 2 bungkus.
Untuk impresi pertama cobain Ceylon Red Au Lait : PAHIT!  Rasanya mirip teh tarik tapi bener-bener pahit!  Tidak seperti teh tarik yang biasa saya minum atau teh yang biasa saya buat, sangat pahit!  Tapi setelah dua kali menyeduh dan belum beli lagi sampai sekarang, kadang-kadang saya suka kangen dengan Ceylon Red Au Lait ini.  Jadi intinya, rasa awalnya memang tidak seperti selera saya, tapi ngangenin!  Walaupun memang sebenarnya saya tidak bisa berpaling dari si teh hijau ini sih..  Tapi memang rasanya enak juga!

Petualangan saya mencari rasa-rasa yang lain pun berlanjut.  Kali ini setelah mengisi stok Matcha Au Lait saya, saya coba lagi Caramel Macchiato. 
Caramel Macchiato ini minuman kopi favorit saya selain teh.  Rasanya sama dengan minuman-minuman sebelumnya, lembut dan bikin saya melek cukup lama karena sudah cukup lama gak minum kopi dan ketika minum kopi jadi langsung sensitif dan gabisa tidur.

Pengembaraan saya mencoba produk-produknya Esprecielo belum selesai.  Sekarang saya akan mencoba Irish Coffee dan Russian Coffee.  Saya sudah mencoba Russian Coffee siang ini.  Rasanya seperti kopi ditambah rum (yaiyalah, namanya juga Russian Coffee).  Sayangnya Russiang Coffe ini sejujurnya bukan selera saya, tapi mungkin bagi yang suka rum, patut dicoba!

Akhirnya, pilihan saya tetap pada Matcha Au Lait.  Walaupun harganya bisa terbilang mahal, tapi menurut saya uang gak bohong kok.  Rasa yang didapat sepadan dengan uang yang dikeluarkan, inilah minuman-minuman yang menemani saya saat begadang dan stres mengerjakan tugas, minuman ini juga yang menemani saya saat saya menikmati waktu luang saya.
KETAGIHAN!
Ceylon Red Au Lait




Sunday, November 3, 2013

Responsibility

responsibility [rɪˌspɒnsəˈbɪlɪtɪ]
n pl -ties
1. the state or position of being responsible
2. a person or thing for which one is responsible
3. the ability or authority to act or decide on one's own, without supervision
Collins English Dictionary – Complete and Unabridged © HarperCollins Publishers 1991, 1994, 1998, 2000, 2003
Setelah membaca apa itu responsibility, sekarang apa itu responsible?

responsible [rɪˈspɒnsəbəl]
adj
1. (postpositive; usually foll by for) having control or authority (over)
2. (postpositive; foll by to) being accountable for one's actions and decisions (to) to be responsible to one's commanding officer
3. (of a position, duty, etc.) involving decision and accountability
4. (often foll by for) being the agent or cause (of some action) to be responsible for a mistake
5. able to take rational decisions without supervision; accountable for one's own actions a responsible adult
6. (Economics, Accounting & Finance / Banking & Finance) able to meet financial obligations; of sound credit
[from Latin rēsponsus, from rēspondēre to respond]
responsibleness  n
responsibly  adv
Collins English Dictionary – Complete and Unabridged © HarperCollins Publishers 1991, 1994, 1998, 2000, 2003
Dalam bahasa Indonesia, kata responsibility diterjemahkan sebagai 'tanggung jawab'.  Secara umum tanggung jawab diartikan sebagai 'harus menanggung segala sesuatu akibat dari perbuatannya sendiri (maupun orang lain)'.  Mungkin jadi ingat pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan waktu SD yang mengajarkan untuk mengembalikan barang yang bukan milik kita kepada pemilik sesungguhnya, melerai jika terjadi perkelahian, berkata jujur, gotong royong, dll.  Tanggung jawab ini adalah salah satu sifat ksatria yang selalu berkata jujur dan adil.

Pacar : Pak, anak bapak hamil.
Ayah : APA? *lalu si bapak siap-siap mau menghajar pacar sang anak*
Pacar : Ampun Pak!  Saya akan bertanggung jawab! *menghindari serangan si bapak yang murka*

Mungkin percakapan ini sudah tidak asing lagi kita temukan di media cetak maupun elektronik.  Entah sebagai candaan atau mungkin juga cerita di sinetron-sinetron.  Entahlah seperti apa sinetron sekarang ini karena saya sudah jarang menonton TV.
"Saya akan bertanggung jawab."
Apa yang dikatakan oleh si Pacar dalam percakapan di atas menurut saya bukanlah yang namanya bertanggung jawab.  Mengapa?
Kembali lagi ke kata responsibility.  Seorang teman saya menganggap bahwa responsibility itu artinya an ability to response.  Artinya kemampuan untuk memberi reaksi/tanggapan.  Kembali lagi ke definisi responsibility yang sudah saya cantumkan di atas.   Definisi ketiga dari responsibility yaitu 
the ability or authority to act or decide on one's own, without supervision.  Kemampuan atau otoritas untuk bertindak atau memilih tanpa harus diawasi.  Artinya tanggung jawab dimulai saat kita mulai memilih apa yang akan dilakukan.

Tanggung jawab bukanlah ketika kita harus menanggung akibat yang ditimbulkan atas perbuatan kita (ataupun orang lain).  Tanggung jawab dimulai saat kita harus memilih untuk memberikan tanggapan atas semua yang ada di sekitar kita.  Ketika kita tidak bertanggung jawab dalam satu hal, artinya kita tidak bertanggung jawab dalam seluruh hidup kita.

Misalnya dalam kehidupan sehari-hari saya sebagai mahasiswa.  Ketika saya memutuskan untuk tidak menghadiri satu kelas yang seharusnya saya hadiri, berarti saya tidak bertanggung jawab sebagai mahasiswa karena tidak memenuhi kewajiban saya sebagai mahasiswa.  Saya pun tidak bertanggung jawab kepada orangtua saya yang membiayai kuliah saya.  Hanya karena saya memutuskan untuk tidak menghadiri satu kelas, saya tidak bertanggung jawab pada diri saya sendiri dan orang tua saya.  Semua aspek dalam hidup saya menjadi terpengaruh karena keputusan saya walaupun mungkin dalam contoh ini dampaknya tidak terlalu besar.

Karena itu ketika seseorang tidak bertanggung jawab, seharusnya ia tidak boleh mengeluh ketika konsekuensi dari perbuatannya merugikan dia.  Misalnya karena saya terlalu banyak bolos, nilai saya jadi jelek.  Saya tidak boleh mengeluh karena saya tidak menjalankan kewajiban saya, dan nilai jelek itu sudah pasti harus saya terima ketika saya tidak melakukan kewajiban saya.

Itulah mengapa saya berpendapat bahwa tanggung jawab dimulai bukan saat kita menerima konsekuensi dari perbuatan kita, tapi saat kita mulai berpikir untuk memberi tanggapan atau saat kita memilih untuk melakukan sesuatu.  Karena itu setiap kita memilih kita harus memikirkan secara matang dengan mempertimbangkan keuntungan dan resikonya (tidak lupa juga mempertimbangkan prinsip hidup, dan agama masing-masing).

Karena itu orang yang bertanggung jawab akan memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu tanpa disuruh karena menyadari kewajibannya.  Rajin adalah salah satu ciri orang yang bertanggung jawab karena selalu melakukan kewajibannya tanpa harus disuruh.  Tidak hanya rajin, orang yang bertanggung jawab juga akan selalu memberi yang terbaik untuk menyelesaikan kewajibannya.  Besar atau kecil tugas yang dilakukannya, orang yang bertanggung jawab akan selalu berusaha secara maksimal untuk menyelesaikan pekerjaannya sebaik mungkin.  Tidak hanya itu, orang yang bertanggung jawab juga cenderung untuk berpikiran positif karena ia sudah melakukan kewajibannya dan tidak mengeluh karena sadar betul itu adalah tugasnya yang harus ia lakukan.

Susah memang menjadi orang yang bertanggung jawab, tapi saya akan terus mencoba untuk bertanggung jawab dalam setiap hal yang saya hadapi.  Tanggung jawab dimulai dari saat saya berpikir untuk bertindak.  Tanggung jawab adalah untuk bersyukur dan tidak mengeluh atas apa yang harus saya kerjakan.

Thursday, September 12, 2013

Latah?

Belakangan ini tampaknya gaya bahasa mantan tunangan penyanyi dangdut yang terkenal dengan 'goyang itik' lagi populer.
Sebenarnya ini harusnya jadi sindiran buat kita sebagai orang Indonesia juga.

Sudahkah kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar?
(Saya juga agak ragu nulisnya karena sadar diri kalau bahasa Indonesia saya juga sangat terbatas...)

Sebenarnya bukan masalah bahasa yang mau saya bahas di sini.  Yang sedikit saya sayangkan adalah kebiasaan kita yang.....latah.

Bahasa seharusnya jadi alat yang mempermudah kita bertukar informasi.  Dengan adanya kemudahan teknologi dan globalisasi sekarang kita belajar bahasa lain selain bahasa Indonesia.  Itu baik kok, tapi yang jadi masalah adalah saat kita jadi melupakan bahasa sendiri.  Saya juga sering kok memasukkan kata-kata dalam bahasa Inggris waktu lagi ngobrol-ngobrol cantik sama temen.  Kadang ada kesannya biar 'GAHOEL' gitu.  Namanya juga orang belajar bahasa asing, jadi sebenarnya tidak jadi masalah kalau misalnya masih ada kesalahan-kesalahan dalam penggunaan kata-kata.

Masalah adalah ketika kesalahan ini jadi bahan olokan seperti yang terjadi sekarang.  Kalau saya pikir-pikir sih yah, kasian itu pelakunya diejek dimana-mana.  Coba bayangkan kalau kita ada di posisi dia?  Kalau saya sih mungkin udah sembunyi dan gak akan keluar rumah lagi seumur hidup.  Dulu aja motor saya pernah ditendang secara gak sengaja (mungkin), dan biasanya kan orang lain langsung marah-marah, waktu itu saya tetap pandangan lurus ke depan dan pura-pura gak terjadi apa-apa walaupun awalnya saya hampir jatuh.  Masalah selain kebanyakan kita seringnya menjelek-jelekkan orang (susah sih yah, namanya juga dia tokoh masyarakat *iya kan?public figure?hehehe*), apa yang kita ejek pun kita lakukan lagi.  Agak terganggu juga sih beberapa hari ini twitter dipenuhi dengan banyak kata yang berakhiran -isasi (walaupun saya juga sering mengganggu dengan banyak nyampah di twitter sih..).  Pertama baca yang kayak gitu sih ya lucu dan ketawa-ketawa aja...  Tapi kelamaan sekarang jadinya...bosen.

Kalau misalnya itu bodoh, kenapa orang yang mencela dan merasa lebih pintar ikut melakukan hal yang sama juga?  Entahlah.  Semoga kebiasaan latah ini bisa diaplikasikan ke hal-hal yang lebih bermanfaat.  Sesuatu yang berlebihan itu gak baik, dan menurut saya ini sudah gak lucu lagi.



Wednesday, September 11, 2013

Home, Let Me Go Home...

Sleep deprivation?
Whenever I'm feeling really mellow I always want to write it here.
Maybe it's because I'm listening to Michael Buble's Home, this song has a nice sad feel.  It makes me want to remember a beautiful but sad memories.  My body also don't feel well, that's why right now I'm feeling really really really moody.

Everything seems fine, although sometimes I regret some of my decision.  Right now I'm trying to forgive myself for making something become more complicated.  It's like a battle between my body and my mind.  I don't know.
Reading materials every week, a quiz next week.  I'm telling myself that I have to go out from my comfort zone to be able to learn something.  Sometimes it will hurt me, it will tire me, but I must keep going.  But I really want to go back to my comfort zone.
Talking about my comfort zone, I think I made my mom really disappointed.  She did expect me to do something but last week I was too busy and I forgot.  I'm sorry, maybe it's God's way to tell me that it was not my time to do that (lame excuse).

I've been going to classes really well.  I sometimes come too early and go home late.  The traffic so far is friendly, haven't got any flood or heavy traffic.  But I too been skipping few classes just because I'm not in the mood.  Well... heheh.

That's all?  Now I have to re-check my notes so I won't forget what should I do tomorrow~

Thursday, July 18, 2013

Going Home.

One month left.
I don't do any special things on my holiday, it's nice because I don't have to think about anything serious since mom's surgery.
So I just spent my time washing few shoes (which I had been left long ago), but I haven't clean up my room yet.
Anyway, I watched anime movies since I can't bear myself waiting for Shingeki no Kyojin (Attack on Titans) each week.  I will just wait till it ends and watch it later.
So I began watching Bleach movies and it attracted me so much so now I've been looking for the animes.
It didn't stay long because I couldn't access few links and it stopped in the middle.

Anyway it is nice to find this old song.  Going Home by Shiro Sagisu.
The first time I heard it was when I had my..first computer?  My cousin gave a lot of anime OSTs and it's good.
I listen to everything that's good, although I have some singers that I like, but I can listen to everything (it depends on my mood).
And here I am, enjoying my caramel tea while listening to it.  It brings a calm atmosphere and because I had nice memories listening to it, so I feel good while listening to this song.

Mom's birthday is coming and I'm thinking of getting her a cake since I couldn't do it last year.
This year gonna be special because I think it's a grace that mom has gone through a surgery.
I know maybe people think it is nothing because the tumor is not really dangerous, but it will get bigger eventually and could endanger her if we didn't do the surgery.  For me it's like mom has gone through a critical situation, and remembering her condition in the recovery room is quite a nightmare for me.
Can't stand watching your loved ones writhing in pain.
Back to plan getting her a cake, I don't know if I can afford one..
I mean I don't go out during holiday because I feel really comfortable at home (with the computer and internet connection), so I could save quite much.
But sometimes parents really lazy to go to bank and they borrowed my money -___-
I didn't need it right now, and I don't planning to ask them to return it since it's all from them anyways..
But then...again..how I can buy her a cake like this....
Well, her birthday is still weeks away so I think I still have time to make a plan.

I'm currently not in a good mood, feeling dizzy and uncomfy.
I don't have insomnia, I just sleep at times that people normally don't sleep.
I mean I'm awake at night and sleep when the sun rises, I sleep about 6-8hrs (sometimes 12hrs because I fell asleep again after wake up after staying on my bed too long).  It's still normal, isn't it?
Today I woke up because of my loud brother, I don't know if he's feeling happy or something because he sings with his cracked voice and talk loudly.
I yelled him to quiet down between my sleep and he yelled "SORRY" to me just when I was about to sleep.
Suddenly I felt really angry...then I couldn't sleep again. DAMN.
And just now I saw some teens (probably 13-14 yrs) complaining about insomnia....
I don't know much about it but I'm sure insomnia it's not caused by love, like a puppy love.
Just confess it already if you like him/her!
Ah...nevermind...