Sunday, November 30, 2014

You'll Be In My Heart, Always!

Long time no post~
So, Sion's gone and now I'm alone.
The thought of her having no one to take care of her is sad.  At first I'm planning to go for some matters and it will take quite a long time.  My mom is kinda scared of dogs, my father feels that it's my duty to take care of her, I can depend on anyone.
So I have to let her go..
Fortunately there's a nice vet and he gladly accepted her, but then... I didn't go.
I miss her, but I can't do anything to get her back.  My fault.
Well, at least now she will have more friend and live happily since the vet will pay extra attention to her eyes that started getting old.

Move on (not yet..)
I'm working on my skripshhh and it hasn't go anywhere.
It's hard since I'm my own enemy.  I'm too lazy.
A lot of things happened and to sum it up...  I'm just happy.
Few things do bother me, but it won't bother me forever and live has ups and downs.  It's normal.
That's why I'll enjoy while I can.

Sometimes I'm happy.
Sometimes I'm sad.
But I'll make sure to be thankful everytime.

:)

Berkata TIDAK

Berkata 'tidak' bisa dibilang merupakan hal tersulit kedua setelah berkata tidak pada makanan kesukaan saya.  Saya sempat berpikir setelah menonton film Yes Man kalau berkata 'iya' dalam setiap kesempatan bisa membawa diri saya ke tahap yang lebih baik sekaligus memngajar saya akan sesuatu.  Saya adalah orang yang pemalu dan sangat senang berada di comfort zone saya sendiri, namanya juga comfort zone... zona kenyamanan.  Memang zona kenyamanan itu nyaman, sangatlah nyaman dan untuk beberapa saat itu membuat saya tidak berkembang sama sekali.  Saya nyaman dengan rutinitas yang saya punya dan tidak berniat untuk mendapatkan lebih.  Saya puas dengan semua yang saya miliki walaupun terkadang ada beberapa hal yang saya inginkan, tapi saya berpikir bahwa ketika memang hal itu memang seharusnya menjadi milik saya, itu akan datang kepada saya dengan sendirinya.

Setelah menonton Yes Man yang menghibur sekaligus membuat saya berpikir untuk lebih terbuka terhadap peluang, saya pun mencoba untuk berkata 'iya' dalam setiap kesempatan.  Sebagai contoh, saya tidak suka mengikuti lomba-lomba dan ketika itu saya ditawarkan untuk mengikuti suatu lomba.  Dalam hati saya tidak ingin mengikutinya, tapi entah mengapa saya mengiyakan dan akhirnya mengikuti lomba tersebut.  Masa-masa perlombaan itu merupakan hal yang sangat menyiksa saya karena saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan masuk dalam suasana yang kompetitif.  Memang pada akhirnya itu menjadi kenangan yang indah bagi saya dan saya mempelajari banyak hal dan bersyukur karena telah mengikuti lomba tersebut.
Memang masa sulit itu akan membuat kita menangis, tapi jika kita terus berusaha dan melakukan yang terbaik semua kesedihan dan air mata akan menjadi senyuman karena kita berhasil melaluinya dan memberikan yang terbaik.  No regrets.

Sayangnya terkadang saya selalu berkata 'iya' kepada hal-hal yang bertentangan dengan prinsip yang saya punya.  Maka dari itu saya harus berkata 'tidak'.  Dan dari hari Minggu kemarin saya mulai menyadari pentingnya berkata tidak.

Apa arti hidup ini?  Untuk siapa kita hidup?
Kita hidup untuk diri sendiri dan untuk menyenangkan Pencipta kita.  Untuk siapapun hidup kita, kehidupan yang berusaha menyenangkan hati semua orang bukanlah hidup yang sesungguhnya.  Kita tidak bisa menyenangkan hati semua orang karena manusia selalu memiliki hal negatif untuk diceritakan.  Terlebih lagi ketika kita ingin menyenangkan hati orang lain agar kita diterima, berarti kita belum mampu menerima diri sendiri apa adanya.
Menerima diri sendiri bisa menjadi wujud syukur kita terhadap Pencipta dan iman kita kepadaNya.  Dengan menerima diri sendiri akan membuat hidup kita sehat secara fisik karena kita mampu menerima keadaan fisik kita sendiri.  Dengan menerima fisik kita sendiri kita tidak akan terluka atau bersusah hati ketika ada orang yang menertawakan keadaan fisik kita.  Hal itu juga akan membuat kita sehat secara sosial.  Ketika kita mampu mencintai diri kita sendiri, maka kita dapat menerima orang lain dengan baik karena kita menghargai dan mengerti kekurangan yang orang lain miliki juga.  Maka dari itu ada istilah bahwa ketika kita mencintai seseorang berarti kita harus mampu mencintai diri sendiri terlebih dahulu.  Ketika kita mampu menerima diri sendiri dan menerima orang lain secara sehat, kita juga tahu berkata 'iya' dan 'tidak' karena kita tidak membutuhkan penerimaan orang lain sehingga kita mampu bertindak berdasarkan kemauan diri kita sendiri, prinsip sendiri.

Tentu saja untuk mampu berkata 'iya' dan 'tidak' kita tidak hanya harus menerima diri kita sendiri.  Harus ada batas yang jelas agar kita memiliki prinsip dan tidak kompromi dengan apa yang ada di hadapan kita.  Selain itu menetapkan batas juga berarti kita bertanggung jawab kepada diri sendiri.  Misalnya jika kita terlalu banyak berjanji, sulit rasanya untuk bertanggungjawab pada janji-janji tersebut.  Selain menerima diri, kita juga harus mengetahui batas kemampuan kita dan menetapkan batas itu untuk bertindak agar segala sesuatu yang kita janjikan tercapai.  Dengan bertanggungjawab menetapkan batas maka kita bisa hidup efektif dan apa adanya.

Sometimes I did things to impress some people.  But now I realize that they won't stay long.  Even my family won't stay with me forever...











Wednesday, January 8, 2014

Ohana. Family.




To be a real man a son has to learn to be responsible towards his own family, knowing that they have to protect the family when dad's not around. It's also the same for daughters, they have to bear their mom's responsibility when the mom's not around. That's how family works. Everyone has their own parts, their own responsibilities. And every member has to do their responsibilities so the family can live harmoniously.






When I say harmonious, I don't mean that they will live in peace without any fight. Everyone is different, every member in a family will have different opinions, different tastes. But love is the one thing that makes them one. Love made mom and dad decided to live together for the rest of their lives. Since I never fall in love with someone so deep (mostly just a slight crush that lasts about 5 years? :P), I always think that our family's love is the only real love I ever experience (beside God's love).


Parents' love towards their children is the most beautiful love in the world. They accept their children although sometimes they're hurt because their children's actions. But hey, they're still new in raising kids too~! We humans are not perfect. Both the children and parents are learning.


The beautiful thing of a family is no matter bad things you have done (well, maybe except husband-wife relation) they always forgiving. There's no ex-child, ex-father/ex-mother. Only ex-wife/ex-husband.






In 2013 I learned that unity is important. Is not about only doing our own responsibilities as a member of a family, but also to forgive and help each other. Honestly I think my relationship with my brother is a little bit better than before now. And in 2014 I hope I can really enjoy everything happens to our family, maybe sometimes I can't stand certain member in the family, but deep inside I know that I will always care about them. And that's why I think..ah..that's love.

Thursday, December 12, 2013

Santai, itu sudah takdir...

Beberapa orang bilang kalau saya hidup tanpa tujuan, hidup tanpa keinginan.
Sebenarnya ada betulnya dan ada tidak betulnya.

Saya pernah membaca beberapa cerita yang intinya berkata bahwa kadang kita harus menerima segala sesuatu dengan lapang dada.  Kadang memaksakan sesuatu itu malah menjadi keburukan atau kemalangan bagi kita.  Itu inti ceritanya.

Kalau dibilang saya percaya Tuhan (atau takdir), saya percaya.  Karena Tuhan Maha Tahu, Dia pasti tahu yang terbaik buat saya, Dia tahu yang saya butuhkan dan yang saya inginkan.  Mungkin dengan diizinkannya beberapa kejadian buruk dalam hidup saya, saya akan mampu belajar dan menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Dulu sebelum masuk kuliah, saya sama sekali tidak memiliki keinginan untuk masuk ke suatu fakultas.  Kenapa?  Karena saya tidak memiliki bayangan sama sekali.  Satu-satunya yang saya inginkan waktu itu adalah sekolah musik.  Tapi orangtua tidak mengizinkan.
Orangtua tahu yang terbaik buat saya, mereka lebih berpengalaman dan mereka mengetahui saya lebih baik daripada orang lain selain saya mengetahui diri saya sendiri (walaupun kadang saya tidak mengetahui bagaimana saya ini sebenarnya).
Dengan memberikan penjelasan, berbagai alasan yang masuk akal, akhirnya saya memutuskan untuk menuruti nasihat orangtua saya.

Saya pun menjalankan tes di sebuah perguruan tinggi, tes yang diadakan hari Minggu terakhir di bulan Januari.  Sesudah saya menjalani tes, saya merasa tidak yakin semua jawaban yang saya berikan adalah benar, maka saya mulai berpikir untuk mencoba masuk ke tempat lain walaupun hasil tes belum keluar.
Orangtua saya memberikan saran untuk saya menunggu hasil tes keluar terlebih dahulu sebelum membeli formulir pendaftaran masuk ke perguruan tinggi lain, akhirnya saya batal membeli formulir di hari terakhir penjualan dan pengembalian formulir; di hari yang sama dengan pengumuman hasil tes.

Teman-teman saya yang datang langsung ke perguruan tinggi itu mencoba mencarikan apakah saya berhasil masuk atau tidak.  Ternyata mereka tidak dapat menemukan nama saya di papan pengumuman.
"Ah, berarti memang saya tidak seharusnya masuk perguruan ini..", pikir saya ketika saya mendapat pesan singkat dari teman saya.  Saya ingat saya baru saja bangun tidur malam itu.  Saya pun segera memberitahukan bahwa saya tidak berhasil kepada orangtua saya, orangtua saya tidak percaya bahwa saya tidak berhasil masuk dan menyuruh saya untuk mengecek lebih lanjut online.
Sekali mencoba, ternyata memang nama saya tidak terpampang di sana.  Saya pun dari awal sudah menerima keadaan saya bahwa saya tidak masuk.  Ayah saya bersikeras menyuruh saya mencoba lagi beberapa kali dengan memasukkan identitas yang berbeda.  Ternyata setelah beberapa kali akhirnya saya menemukan nomor ujian saya, berikut nama saya.  Ternyata nama saya yang terdaftar hanyalah nama depan saja sehingga teman saya pun tidak dapat menemukannya di papan pengumuman.  Namun setelah dikonfirmasi lebih lanjut, ternyata saya berhasil masuk ke kampus itu.

Dari kejadian di atas saya menyadari bahwa saya ini orangnya tidak mau berjuang, memang saya akan berusaha selalu memberikan yang terbaik yang saya punya pada saat itu, namun saya akan berhenti ketika penilaian sudah dilakukan.  Dan memang itu yang sering saya lakukan.

Kejadian kedua adalah ketika saya harus kehilangan beberapa orang karena kesalahan saya sendiri.  Pada saat itu saya terlalu polos dan mengikuti begitu saja saran orang-orang yang saya percaya.  Hasilnya saya kehilangan orang yang mungkin pada saat itu adalah orang yang paling penting buat saya selain keluarga saya.  Harus saya akui, untuk berpisah dengan orang tersebut sampai saat ini saya terkadang masih merasa menyesal.  Tapi pada akhirnya saya pun ikut bersyukur karena selalu ada yang bisa saya pelajari dalam setiap permasalahan walaupun sampai sekarang masih ada penyesalan dan tetap akan selalu ada.
Teman-teman, semua orang yang kita kenal, bahkan keluarga kita sendiri tidak akan selalu ada dalam kehidupan kita.  Pasti ada saatnya bagi mereka untuk pergi dari kehidupan kita, baik itu karena kematian, ataupun perpisahan.
Itu adalah hal yang saya pelajari dari kejadian tersebut sehingga sekarang membuat saya ragu untuk menetapkan batas yang jelas ketika ada orang-orang di sekitar saya yang membuat saya tidak nyaman.  Setiap orang diizinkan hadir di sekitar saya untuk membuat saya menjadi manusia yang lebih baik.
Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.
Sekarang saya berpikir jauh lebih dewasa dari sebelumnya, setidaknya saya belajar untuk merelakan kepergian orang-orang yang pernah memberikan kesan baik dalam hidup saya.  Dan walaupun dahulu saya membuat kesalahan dengan "membuang" orang-orang yang berarti dalam hidup saya secara kasar, kini saya juga mulai berusaha belajar untuk bisa membangun hubungan sosial yang lebih sehat.
Saya bersalah karena memperlakukan orang tersebut seperti barang dengan membuatnya jauh dari kehidupan saya, merasa saya lebih benar dan dia yang salah.

Sekarang saya masih tetap orang yang pemalas.  Ibaratnya saya ingin mendapatkan nilai yang baik dalam ujian, namun malas untuk belajar.  Tapi walaupun saya malas untuk belajar, saya tidak mau menyontek karena ujian memang ditujukan untuk menguji diri sendiri.
Begitu juga dalam hidup, memang saya memiliki beberapa keinginan, namun kadang keinginan itu hanyalah keinginan.  Saya tidak berusaha untuk mengejar cita-cita saya secara jelas karena memang saya sendiri belum mengerti apa yang sebenarnya saya inginkan.  Kadang saya terlihat menjadi orang yang terlalu santai, walaupun memang benar.  
Saya berpikir bahwa setiap manusia lahir untuk sebuah tujuan, sebuah misi yang tidak dapat dijalankan orang lain kecuali kita sendiri.  Nah, pencarian misi itu tidak saya lakukan dengan baik.  Saya hanya menunggu Tuhan untuk membukakan jalan, memberi tahu saya secara jelas apa yang harus saya lakukan.  Sehingga segala sesuatu yang menimpa saya, akan saya terima karena saya berpikir bahwa itu sudah rencanaNya, sudah takdir kata orang.  Walaupun mungkin seharusnya saya berjuang untuk mendapatkan yang saya inginkan.

Sebenarnya banyak orang bilang kalau saya mau tahu apa yang saya harus lakukan, saya harus mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan menemukan komunitas yang membantu saya untuk bertumbuh.  Tapi ya sekali lagi, saya merasa belum siap dan belum waktunya.

Memang bukan contoh yang baik untuk ditiru ya..

Saturday, November 16, 2013

What?

Everyone has their own ways to enjoy me-time.
Just because I chose to stay in silence, doesn't mean that I have to listen to whatever you say.
You can talk all you want, but I can choose not to listen to you.

You asked me for help, although actually you can do it yourself.
Yes, two is better than one.  It make things easier and faster to be done.
But if you keep using your phone while I have to do all the things, it's not fair.
That's why I keep protesting, because you often judge me for not having works done.
I did more than I should (I think), I sacrifice my time to help.
It's a part of my responsibility and how I show my love to you, my love to them too.
But I feel it's unfair for me if you keep using me so you can get more time using your phone.

Yes, I'm lazy.  That's why you have to choose him.
Yes, I don't want to help you, that's because you keep protecting him and making him stay away from work.
While you think I'm only playing the computer all day, you don't know that I'm doing my assignments.
I'm being scold for not attending classes when the lecturer had cancel it.
I'm trying to understand.

Maybe it's me.
I think justice, equality, fairness means that if I have to do it, he has to do it too.
Why I have to do it when he has not to do it?
Why I have to sacrifice my own time if he enjoy his time?
It's okay if you think I'm selfish. I am a human anyway.
I did ask you, but you can't answer.
So how would I know if I'm wrong?

What's justice? Fairness?  Equality?
At least he has to do something for me too if he can't do my works.
I don't see that.
Show me.
Tell me if I'm wrong.

Friday, November 15, 2013

Minuman Kesukaan

Bentuknya kayak buku kan? 

Yep!  Waktunya promosi!
Bulan November 2013 ini kebanyakan cuaca Bandung tidak bersahabat.  Hampir setiap hari hujan dan banjir.  Hari Sabtu ini pun sama, seharian Ujungberung dilanda hujan dari saya bangun sampai sore hari.  Hujan itu menyenangkan, tidak menyenangkan tapinya kalau hujan pada saat kita harus keluar rumah karena ada urusan yang tidak bisa ditunda.  Nah, biasanya kan kalau hujan saya suka menggalau denger lagu sambil liat keluar jendela pura-pura lagi syuting sedih-sedih galau.  Kali ini saya gak perlu lagi menggalau di saat hujan karena selain mendengarkan lagu saya juga minum minuman hijau cantik ini yang menghangatkan badan.
9 bungkus  beserta petunjuk pemakaian
Yap! Esprecielo!  Awalnya saya tertarik sama produk ini karena saya suka minum teh.  Saya tertarik untuk mencoba teh hijau lain setelah stok teh hijau 2Tang di rumah menipis.  Akhirnya saya beli deh yang Matcha Au Lait.  Bentuknya cantik, mirip buku seperti gambar yang di atas.  Waktu dibuka (setelah bingung bagaimana cara bukanya karena bungkusnya membingungkan ternyata ada Prologue juga!  Setelah membaca cepat, saya buka lagi dan baru kelihatan deh 9 bungkus teh hijau nya beserta petunjuknya yang berbentuk cangkir itu
Setelah baca secara sekilas, jangan tertipu sama bungkusnya yang besar!  Satu bungkus itu cuma terasa enak kalau diseduh pakai gelas yang kecil!  Awalnya saya ketipu dan seduh 1 bungkus itu ke gelas yang lumayan besar, hasilnya jadi gak enak, terlalu banyak air.

Jadi gimana nih rasanya?  Kalo boleh dibilang rasanya enak banget!  Waktu diseduh langsung deh timbul busa-busa lembut di atasnya yang warnanya hijau juga.  Dilihat dari warnanya itu rasanya ya kayak minum green tea yang creamy karena susu.  Sejujurnya saya belum pernah coba pakai air dingin sih, pertama karena saya gak suka minum yang dingin-dingin dan memang minuman ini kerasa paling nikmat diminum waktu suam-suam kuku.  Gak kayak teh yang biasanya saya minum panas-panas.

Kalau kata orang-orang rumah sih minuman ini rasanya kurang manis.  Sebenarnya saya juga memang paling suka minuman yang manis, tapi entah mengapa belakangan ini saya suka rasanya yang lembut dan tidak terlalu manis.  Karena terlalu enak, sekarang biasanya saya minumnya 2 bungkus sekaligus diseduh ke gelas yang besar kayak di bawah ini.  Saking ketagihannya sehari bisa minum sampai 6 bungkus (mau saingan sama konsumsi kopi nya babeh!)

Gelas besar pakai whipped cream

Setelah beberapa lama saya minum ini, ternyata kepikiran juga untuk kasih sedikit pemanis nya dengan whipped cream yang biasa dijual di supermarket.  Jadi setelah diseduh tinggal  dikasih instant whipped cream nya (yang sweetened).  Seperti yang bisa dilihat di gambar di atas, itu memang saya gak bisa aja sih jadi keliatannya kurang menarik, tapi rasanya enak banget!
Ternyata walaupun harganya agak mahal, saya ketemu juga minuman dengan merk yang sama dengan bungkus yang lebih besar.  Walaupun sebenernya isinya gak beda jauh, bungkus yang besar ini isinya ada 14 bungkus dengan petunjuk penyeduhan yang sama juga kayak gambar sebelumnya.  Karena sudah merasakan nikmatnya yang green tea saya jadi penasaran untuk beli yang lainnya karena memang ada banyak variannya.  Jadi ketika saya beli yang bungkus besar Matcha Au Lait itu saya juga coba beli yang Ceylon Red Au Lait yang kemasan kecil, satu kemasan isinya ada 2 bungkus.
Untuk impresi pertama cobain Ceylon Red Au Lait : PAHIT!  Rasanya mirip teh tarik tapi bener-bener pahit!  Tidak seperti teh tarik yang biasa saya minum atau teh yang biasa saya buat, sangat pahit!  Tapi setelah dua kali menyeduh dan belum beli lagi sampai sekarang, kadang-kadang saya suka kangen dengan Ceylon Red Au Lait ini.  Jadi intinya, rasa awalnya memang tidak seperti selera saya, tapi ngangenin!  Walaupun memang sebenarnya saya tidak bisa berpaling dari si teh hijau ini sih..  Tapi memang rasanya enak juga!

Petualangan saya mencari rasa-rasa yang lain pun berlanjut.  Kali ini setelah mengisi stok Matcha Au Lait saya, saya coba lagi Caramel Macchiato. 
Caramel Macchiato ini minuman kopi favorit saya selain teh.  Rasanya sama dengan minuman-minuman sebelumnya, lembut dan bikin saya melek cukup lama karena sudah cukup lama gak minum kopi dan ketika minum kopi jadi langsung sensitif dan gabisa tidur.

Pengembaraan saya mencoba produk-produknya Esprecielo belum selesai.  Sekarang saya akan mencoba Irish Coffee dan Russian Coffee.  Saya sudah mencoba Russian Coffee siang ini.  Rasanya seperti kopi ditambah rum (yaiyalah, namanya juga Russian Coffee).  Sayangnya Russiang Coffe ini sejujurnya bukan selera saya, tapi mungkin bagi yang suka rum, patut dicoba!

Akhirnya, pilihan saya tetap pada Matcha Au Lait.  Walaupun harganya bisa terbilang mahal, tapi menurut saya uang gak bohong kok.  Rasa yang didapat sepadan dengan uang yang dikeluarkan, inilah minuman-minuman yang menemani saya saat begadang dan stres mengerjakan tugas, minuman ini juga yang menemani saya saat saya menikmati waktu luang saya.
KETAGIHAN!
Ceylon Red Au Lait




Sunday, November 3, 2013

Responsibility

responsibility [rɪˌspɒnsəˈbɪlɪtɪ]
n pl -ties
1. the state or position of being responsible
2. a person or thing for which one is responsible
3. the ability or authority to act or decide on one's own, without supervision
Collins English Dictionary – Complete and Unabridged © HarperCollins Publishers 1991, 1994, 1998, 2000, 2003
Setelah membaca apa itu responsibility, sekarang apa itu responsible?

responsible [rɪˈspɒnsəbəl]
adj
1. (postpositive; usually foll by for) having control or authority (over)
2. (postpositive; foll by to) being accountable for one's actions and decisions (to) to be responsible to one's commanding officer
3. (of a position, duty, etc.) involving decision and accountability
4. (often foll by for) being the agent or cause (of some action) to be responsible for a mistake
5. able to take rational decisions without supervision; accountable for one's own actions a responsible adult
6. (Economics, Accounting & Finance / Banking & Finance) able to meet financial obligations; of sound credit
[from Latin rēsponsus, from rēspondēre to respond]
responsibleness  n
responsibly  adv
Collins English Dictionary – Complete and Unabridged © HarperCollins Publishers 1991, 1994, 1998, 2000, 2003
Dalam bahasa Indonesia, kata responsibility diterjemahkan sebagai 'tanggung jawab'.  Secara umum tanggung jawab diartikan sebagai 'harus menanggung segala sesuatu akibat dari perbuatannya sendiri (maupun orang lain)'.  Mungkin jadi ingat pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan waktu SD yang mengajarkan untuk mengembalikan barang yang bukan milik kita kepada pemilik sesungguhnya, melerai jika terjadi perkelahian, berkata jujur, gotong royong, dll.  Tanggung jawab ini adalah salah satu sifat ksatria yang selalu berkata jujur dan adil.

Pacar : Pak, anak bapak hamil.
Ayah : APA? *lalu si bapak siap-siap mau menghajar pacar sang anak*
Pacar : Ampun Pak!  Saya akan bertanggung jawab! *menghindari serangan si bapak yang murka*

Mungkin percakapan ini sudah tidak asing lagi kita temukan di media cetak maupun elektronik.  Entah sebagai candaan atau mungkin juga cerita di sinetron-sinetron.  Entahlah seperti apa sinetron sekarang ini karena saya sudah jarang menonton TV.
"Saya akan bertanggung jawab."
Apa yang dikatakan oleh si Pacar dalam percakapan di atas menurut saya bukanlah yang namanya bertanggung jawab.  Mengapa?
Kembali lagi ke kata responsibility.  Seorang teman saya menganggap bahwa responsibility itu artinya an ability to response.  Artinya kemampuan untuk memberi reaksi/tanggapan.  Kembali lagi ke definisi responsibility yang sudah saya cantumkan di atas.   Definisi ketiga dari responsibility yaitu 
the ability or authority to act or decide on one's own, without supervision.  Kemampuan atau otoritas untuk bertindak atau memilih tanpa harus diawasi.  Artinya tanggung jawab dimulai saat kita mulai memilih apa yang akan dilakukan.

Tanggung jawab bukanlah ketika kita harus menanggung akibat yang ditimbulkan atas perbuatan kita (ataupun orang lain).  Tanggung jawab dimulai saat kita harus memilih untuk memberikan tanggapan atas semua yang ada di sekitar kita.  Ketika kita tidak bertanggung jawab dalam satu hal, artinya kita tidak bertanggung jawab dalam seluruh hidup kita.

Misalnya dalam kehidupan sehari-hari saya sebagai mahasiswa.  Ketika saya memutuskan untuk tidak menghadiri satu kelas yang seharusnya saya hadiri, berarti saya tidak bertanggung jawab sebagai mahasiswa karena tidak memenuhi kewajiban saya sebagai mahasiswa.  Saya pun tidak bertanggung jawab kepada orangtua saya yang membiayai kuliah saya.  Hanya karena saya memutuskan untuk tidak menghadiri satu kelas, saya tidak bertanggung jawab pada diri saya sendiri dan orang tua saya.  Semua aspek dalam hidup saya menjadi terpengaruh karena keputusan saya walaupun mungkin dalam contoh ini dampaknya tidak terlalu besar.

Karena itu ketika seseorang tidak bertanggung jawab, seharusnya ia tidak boleh mengeluh ketika konsekuensi dari perbuatannya merugikan dia.  Misalnya karena saya terlalu banyak bolos, nilai saya jadi jelek.  Saya tidak boleh mengeluh karena saya tidak menjalankan kewajiban saya, dan nilai jelek itu sudah pasti harus saya terima ketika saya tidak melakukan kewajiban saya.

Itulah mengapa saya berpendapat bahwa tanggung jawab dimulai bukan saat kita menerima konsekuensi dari perbuatan kita, tapi saat kita mulai berpikir untuk memberi tanggapan atau saat kita memilih untuk melakukan sesuatu.  Karena itu setiap kita memilih kita harus memikirkan secara matang dengan mempertimbangkan keuntungan dan resikonya (tidak lupa juga mempertimbangkan prinsip hidup, dan agama masing-masing).

Karena itu orang yang bertanggung jawab akan memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu tanpa disuruh karena menyadari kewajibannya.  Rajin adalah salah satu ciri orang yang bertanggung jawab karena selalu melakukan kewajibannya tanpa harus disuruh.  Tidak hanya rajin, orang yang bertanggung jawab juga akan selalu memberi yang terbaik untuk menyelesaikan kewajibannya.  Besar atau kecil tugas yang dilakukannya, orang yang bertanggung jawab akan selalu berusaha secara maksimal untuk menyelesaikan pekerjaannya sebaik mungkin.  Tidak hanya itu, orang yang bertanggung jawab juga cenderung untuk berpikiran positif karena ia sudah melakukan kewajibannya dan tidak mengeluh karena sadar betul itu adalah tugasnya yang harus ia lakukan.

Susah memang menjadi orang yang bertanggung jawab, tapi saya akan terus mencoba untuk bertanggung jawab dalam setiap hal yang saya hadapi.  Tanggung jawab dimulai dari saat saya berpikir untuk bertindak.  Tanggung jawab adalah untuk bersyukur dan tidak mengeluh atas apa yang harus saya kerjakan.